Le Journale

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Le Journale

Post  al_fajr on Sat Jan 12, 2008 5:19 pm

JANUARY 11, 2008



Teringat
waktu malam sebelum keberangkatanku ke tanah Jawa setahun yang lalu
saat liburan semester ganjil. Waktu itu aku masih kuliah di ITS
Surabaya, dan menghabiskan liburan sebulan di kampungku. Malam itu
aku pamitan ke rumah kakekku, di sana ada kakek, nenek, serta Bibiku, adik dari ibuku.




Nenek
serta bibiku cuma berpesan kepadaku agar selalu berhati-hati di
rantau yang jauh, serta menanyakan kapan aku datang lagi ? aku cuma
bisa menjawab seadanya "Insya Allah jika liburan mendatang"
jawabku sekenanya.




Sedangkan
kakekku,seorang yang mencurahkan seluruh hidupnya pada Allah SWT,
seorang muadzin, penjaga Mesjid, asisten Imam Shalat, berpesan padaku
untuk senantiasa ingat pada Allah dalam setiap gerak, terutama dalam
shalat. Dia berpesan untuk selalu berusaha untuk menyediakan ruang
dalam hati untuk Allah SWT semampu kita, mungkin ini pengaruh karena
dia adalah salah seorang pengikut salah satu aliran zikir yang belum
lama ini masuk ke kampungku, namanya Tarekat Naqsabandiyah.




Aku
kurang mengerti dari mana aliran tarekat ini berasal, namun setauku
dari perbincangan orang-orang kampung,mafhumlah saya jika tarekat ini
dibawa oleh orang-orang Jawa yang kebetulan datang bersama dengan
salah seorang warga kampungku bernama Al Haddad, seorang pemuda yang
menurut penilaianku waktu kuliat dulu termasuk golongan pemuda alim.
Masa remajanya dihabiskan di pondok pesantren di tanah Jawa. Mungkin
melalui hubungan inilah ia membawa rekan-rekannya ke kampungku di
Sulawesi.




Kebetulan
Al Haddad ini adalah tetanggaku, cuma berjarak dua rumah dari
rumahku. Adik Al Haddad, Siti Husna mendapatkan jodoh seorang dari
para pembawa tarekat Naqsabandiyah ini. Siti Husna, seorang wanita
yang mungkin beda empat tahun usianya denganku, juga menghabiskan
masa remajanya di tanah jawa di pondok pesantren. Ia dipersunting
seorang pemuda pembawa aliran Naqsabandiyah bernama Mas Ebit, ya mas
Ebit... begitulah orang-orang di kampungku memanggilnya. Dia seorang
berperawakan tinggi, besar, dengan ciri khas keIslamannya. Aku
teringat waktu SD saat si Siti Husna telah beranjak remaja dan baru
saja pulang dari tanah Jawa. Aku melihatnya sebagai seorang gadis
yang manis, kulitnya agak hitam,namun dapat dilihat hal itu tidak
mengurangi kecantikannya.

Sekarang mereka telah
mempunyai seorang anak dan saat pulang liburan tahun lalu si Siti
Husna telah hamil besar dan Insya Allah mungkin telah melahirkan
dengan selamat.




Menurut cerita ayah dan
ibuku serta desas-desus dari orang kampung, saat pertama membawa
aliran ini ke kampungku, terjadi gejolak diantara masyarakat di
kampungku, ada yang setuju dan ikut dengan aliran ini, mereka
digawangi oleh para orang tua kampung, tokoh kampung, malah sang Imam
masjid kampung, Ust. Abdurrahman Syara, sosok yang sangat disegani di
kampung, termasuk yang pertama-tama masuk, begitupula dengan tokoh
kampung lainnya, juga guru ngajiku waktu kecil, bapak Ust.
Shafaruddin, dan tak ketinggalan pula, kakekku. Nampaklah jika aliran
ini bakalan berkembang, karena tokoh-tokoh masyarakat telah masuk.




Golongan kedua adalah
orang-orang yang menentang, menentangnya juga, ada yang keras, ada
yang cuma dalam bentuk kekhawatiran apakah aliran ini sesat atau
murni ajaran yang bersumber dari Rasulullah SAW. Bentuk penentangan
macam-macam pula, mulai dari sekedar cemoohan, sampai pada
pelemparan, akupun tak pernah menyaksikan langsung, itu
cerita orang-orang
. Maklumlah sebagian hidupku kuhabiskan
di rantau, perkembangan di kampung cuma sedikit yang aku tau.




Golongan ketiga adalah
golongan yang netral, yang menganggap perbedaan sebagai bentuk dari
kemahabesaran Allah, termasuk golongan ini adalah Bapakku sendiri,
akupun termasuk golongan ini, jika seandainya ada ditengah
tengah masyarakat.





Secara pribadi aku sangat
bangga menjadi salah satu bagian dari warga di kampungku. Nuansa
keagamaan masih sangat kental, kontrol sosial sesama masyarakat masih
bagus. Warga kampungku yang pekerja keras, mencari rezki dengan halal
atas dasar ridha Allah SWT, beda dengan masyarakat kota yang saling
sikut-sikutan, saling tindis-menindis. Ketika masyarakat kota sibuk
dengan kehidupan dunia, mengejar hal-hal yang berbau materi, warga di
kampungku, bekerja untuk keluarga mereka. Saat Maghrib mereka
berbondong-bondong ke masjid, sungguh suatu pemandangan yang langka
di perkotaan.




Jika dipikir ulang,
berapalah usia maksimal kita di dunia ini, mungkin maksimal 90 tahun
jika memungkinkan, rata-rata sih 65 tahun. Warga kota sibuk untuk
mencari duniawi, jarang yang mencari akhirat, negeri yang kekal.
Sedang warga di kampung di siang hari bekerja keras, di sore hari
mereka bercengkrama satu sama lain, di malam hari mereka beribadah
dan istrahat.




Oh kampungku, ibu
pertiwiku, aku merindukanmu, di sana godaan duniawi sedikit, yang ada
adalah hutan yang lebat, gunung yang menjulang tinggi, mata air yang
mengalir deras, hamparan lapangan luas untuk bermain, pantai yang
indah, laut yang biru, serta hawanya yang sejuk. Kota, tempat penuh
maksiat, jauh dari nilai-nilai ajaran Rasulullah SAW.




Aku bersyukur terlahir di
kampungku yang indah, anugerah dari Allah SWT.




Di akhir pesannya, kakek
bertanya pula " jadi…kapan kau balik lagi Jrin ?" aku
cuma berjanji untuk datang liburan mendatang, namun Allah berkehendak
lain, aku di DO dari kampus lamaku (ITS Surabaya), liburan semester
yang tiga bulan kemarin aku habiskan mengrus dispensasi, namun
ditolak, dan terpaksa aku hijrah ke Malang, melanjutkan perjuangan di
kampus baru, UMM Malang, kampus sekuler berlabel Rasulullah SAW.

_________________
A LA GUERRE COMME A LA GUERRE

al_fajr
.
.

Male
Jumlah posting : 288
Age : 30
Lokasi : ada deh...want to know ae
Status : buronan CIA & Israel
Hobby : maen game
Registration date : 05.05.07

Statistik
Point:
0/0  (0/0)
Warning:
0/0  (0/0)
Thank:
0/0  (0/0)

Lihat profil user http://fajrin-home.page.tl

Kembali Ke Atas Go down

Sabtu

Post  al_fajr on Sat Jan 12, 2008 5:26 pm

January,12 2008


Rupanya tak cuma aku yang
seperti sekarang ini. Dulu Sayyid Qutb pun pernah patah hati sampai
dua kali pada perempuan. Begitupula dengan orang-orang terkenal
lainnya. Diceritakan bahwa Sayyid Qutb pernah cinta setengah mati
pada seorang gadis, dan gadis itu menikah dengan cowok lain tiga
tahunsetelah ia meninggalkan Kairo untuk merantau menuntut ilmu.




Kecenderungan pada lawan
jenis adalah salah satu anugerah dari Allah SWT, itu menunjukkan
kemanusiaan seorang manusia. Namun adakalanya ceritanya menjadi
seperti judul lagunya Padi "Kasih Tak Sampai".




Dulu waktu kelas enam SD,
mungkin masih terlalu kecil saat itu, aku menyukai seorang gadis, dia
bukan orang lain, namun merupakan sepupuku, nenekku dan neneknya
adalah kakak-beradik kandung, namun rasa sukaku cuma sebatas dihati,
tak pernah kuungkapkan dengan kata ataupun perbuatan, malah kadang
aku membuatnya jengkel dulu waktu sama-sama mengaji. Tamat SD aku
sekolah SMP di kota, sedangkan dia tetap melanjutkan SMP di kampung,
terakhir kudengar saat kami kelas tiga SMP, dia telah dilamar seorang
pria di kampungku yang merantau ke tanah Maluku sana. Setelah tamat
SMP mereka menikah, dan ia dibawa pula ke Maluku bersama suaminya





Saat liburan semester
kemarin, aku pulang dan mendapatinya telah mempunyai seorang anak,
laki-laki, lupa pula aku namanya, dia datang bersama suami dan
anaknya karena adik suaminya menikah, menikahnya dengan sepupuku
pula, anak dari bibiku, adik tiri ayahku. Waktu kemarin itu aku tak
pernah menyapanya, dialah yang menyapa aku, malulah aku, diapun
mengenalkan aku pada anaknya yang telah berumur kira-kira 4 tahun,
sebagai paman, sakitlah hati ini.hahaha.




Lain waktu SD, SMP aku tak
terlalu memikirkan perempuan,kebanyakan hari-hariku kuisi dengan
belajar dan bermain bersama teman-teman.


Menginjak bangku SMA, aku
pindah ke Kendari, di sana aku tinggal bersama bibi pula, sepupu dari
ibuku, dia adalah guru SMP, sedangkan suaminya adalah KAJUR di
Universitas di Kendari.

Waktu SMA ini aku jatuh hati
pada teman sekelasku, namanya Iriani, pernah suatu ketika aku
beranikan diri membuat surat cinta kepadanya, dengan tulisan sastra
picisan, kukeluarkanlah segala isi hatiku. Namun tak sampai pula
surat itu kepadanya, isi hatiku cuma Allahlah yang tau, rasa malu
kadang lebih besar dari segalanya. Aku sekelas dengannya sampai kelas
dua, waktu kelas tiga kami berpisah, dia masuk jurusan IPS, sedangkan
aku masuk jurusan IPA.

Waktu kelas tiga ini lain
lagi kisahnya, entah ada apa dengan hati ini, suatu misteri ilahi
terjadi, aku jadi menyukai seorang gadis yang dulu saat kelas satu
aku tak ada rasa simpati sama sekali kepadanya, namun mungkin karena
internsitas pertemuan karena sekelas, menimbulkan suatu yang lain,
lagian dulu ia tak berjilbab, sekarang telah berjilbab pula, tambah
cantiklah. Namanya Harsia, tapi seperti biasa itu cuma dihati,
semutpun tak tahu, memang pandai sekali aku menyembunyikan
perasaanku.




Masuk bangku kuliah, akupun
berpisah dengan teman-teman lama, berjumpa dengan kawan-kawan baru di
tanah jawa, di Surabaya aku agak susah beradaptasi dengan lingkungan
yang panasnya ga kepalang, hal itu mempengaruhi konsentrasiku,
termasuk dalam urusan cinta-cintaan, kuliah, dsb, kebanyakan waktuku
tersita selama dua tahun (2005-2007) dalam kamar, jarang keluar,
benar-benar membosankan. Kegiatan ngaji di Hizbut-Tahrir seperti saat
SMA selama tiga tahun tak pernah kulakukan, jauh dari nilai-nilai
agama, sampai aku di DO.




Sekarang aku hidup di
Malang, meretas kembali impian suksesku, kata kawan-kawanku di
Surabaya, di Malang tuh banyak cewek dan cakep-cakep, rupanya
statement mereka terbukti, memang banyak, namun hingga saat ini
belumpun ada yang menarik perhatianku, selain karena fokus kuliah
(trauma malas, takut DO), juga cewek-cewek sini penampilannya luar
biasa, kebarat-baratan, tak cocoklah untuk dijadikan pendamping
hidup, bagusnya dijadikan gundik (just kidding ,hehehe) jadi ingat
firman Allah, Mukmin pria yang baik(ukuran ALLah) untuk Mukmin
wanita yang baik
pula,begitupula sebaliknya, lagian mana maulah
mereka dengan cowok kampung sepertiku, maka bersyukurlah aku pada
ALLah tidak digoda oleh mereka,padahal wajahku tak kalah tampan,
katanya mirip Hritik Roshan (HUEEEEEEEEEK,oho…oho,hehehe), cuma
uangku tak setampan cowok lain,cuma bisa makan, beli buku,beli rokok,
beli tinta printer, dan ditabung.




Ngomong-ngomong soal cewek
alim di kota, bagaikan mencari jarum di dalam jerami, kecuali
berusaha sekuat tenaga, memperbaiki akhlak sendiri, bekerja keras
untuk jaminan masa depan, belajar dengan tekun, rajin ibadah, rajin
berdoa, memperdalam agama, barulah mendapatkan yang sepadan, cewek
yang sopan, berbicara dan bertingkah laku yang sopan, tidak memandang
orang dari hartanya, menutup aurat, taat pada kedua orang tuanya,
taat pada ALLah dan Rasul-Nya.




Tapi semau itu merupakan
proses, yang penting adalah niat. Jika niatnya tulus maka akan
mendapatkan hasilnya, namun jika hanya mencari kenikmatan sesaat,
bersenang-senang, malam mingguan, canda rayu yang penuh dengan
bisikan setan, semuanya sia-sia. Tak berseni, jikapun ada yang bilang
itu seni hidup, benar, seni bermaksiat pada ALLah.




SO…

SAY NO TO PACARAN

SAY YES TO KHITBAH

SAY NO TO FREE SEX
SAY
YES TO GET MARRIED

_________________
A LA GUERRE COMME A LA GUERRE

al_fajr
.
.

Male
Jumlah posting : 288
Age : 30
Lokasi : ada deh...want to know ae
Status : buronan CIA & Israel
Hobby : maen game
Registration date : 05.05.07

Statistik
Point:
0/0  (0/0)
Warning:
0/0  (0/0)
Thank:
0/0  (0/0)

Lihat profil user http://fajrin-home.page.tl

Kembali Ke Atas Go down

SAbtu SOre

Post  al_fajr on Sat Jan 12, 2008 5:38 pm

January 12 2008


Tiap waktu aku mengharapkan cinta, itu
menunjukkan kelemahanku sebagai manusia.Itu hanyalah khayalan dan
omong kosong belaka.




Tak taulah aku dengan diriku
ini, tiap hari-hari yang kulalui terasa ada yang hilang, penuh
misteri, suatu waktu aku ingin menjadi seorang yang alim, di malam
hari akupun tidur, menyetting alarm di hadnphoneku agar bangun jam
empat subuh, namun apa lacur, aku bangun jam sembilan pagi. Shalat
Shubuh pun musnah. Dosa menghantui jiwaku yang rapuh, lemah tak
berdaya oleh bisikan setan.




Kadang aku mengkahayalkan
suatu saat dimana aku bisa tekun beribadah, selalu istiqomah berada
di jalan Allah, namun ada yang salah dengan diriku ini, selalu saja
keengganan untuk dekat kepada Allah.




Aku orang yang kalah oleh
zaman, usiaku telah menginjak umur duapuluh satu tahun, usia yang
masih muda, tapi sembilan tahun lagi aku berumur tigapuluh tahun,
sembilan belas tahun lagi aku berumur empatpuluh tahun, duapuluh
sembilan tahun lagi aku berusia setengah abad, itu jika Allah
memanjangkan umurku. Namun jika Allah berkehendak lain, mungkin aku
akan mati sebentar lagi.




Kadang aku menyesal jika
mengingat dosa-dosaku, aku tak bisa seperti para orang alim yang
selalu istiqomah dalam kebaikan, jiwaku yang rapuh adalah
penyebabnya. Dosa-dosa kecil yang membentuk bintik-bintik hitam
dihatiku telah menutupinya dari cahaya rahmat. Shalat yang
bolong-bolong, yang aku sering perjuangkan.




Padahal betapa nikmat Allah
telah menjadikanku umat Muhammad SAW, aku hidup di dunia yang hampa,
penuh dengan ratap kemiskinan bangsa ini, dan aku masuk ke dalam
lingkaran ini, secara materi aku tidak kekurangan, tiap bulan, uang
delapan ratus ribu selalu masuk ke rekening, menadah mulut sendiri
dari orang tua yang membanting tulang, tetapi secara batin aku
tersiksa, bayangan siksaan api neraka dan siksa kubur teru menghantui
jiwaku yang rapuh. Serapuh dunia ini dengan godaan-godsaannya.
Pantaslah begitu banyak orang yang mencela dunia.




Rasa malu selalu
menghinggapi jiwaku yang rapuh, jiwa yang penuh kewas-wasan, rasa
gelisah. Apalah arti ini semua ??? hari-hariku sungguh membosankan,
tiap hari aku hanya membaca novel-novel sambil mencoba mencari
inspirasi.untuk mencoba membuat sebuah novel pula, atau cerpenlah
setidaknya.




Oh dunia, sungguh suatu yang
menghinakanku, wanita cantik, harta yang tak ada habisnya, keturunan
yang baik, adalah godaan terbesar selain iblis, mungkin pula sang
iblis sedang menertawakan diriku yang malang ini. **** U Iblis!!!




Aku ingin suatu
pengembaraan, menemukanku kepada cahaya ilahi, cahaya Allah, yang
mampu mencegahku dari maksiat dunia, meneguhkan jiwaku yang rapuh dan
melankolis. Aku ingin bertemu seorang ulama besar, yang mampu
menyinari hatiku, tapi aku pesimis, mana adalah yang mau menerima
murid sepertiku ini. Seorang yang jiwanya rapuh.




Tugas kuliah menumpuk
seperti biasa, tak sedikitpun aku sentuh, sungguh memuakkah jika
usaha yang kita lakukan tak menuai hasil, aku bosan!!!******.

Bingung aku harus berbuat
apa, dalam hati pula aku berpikir jika hatiku ini telah membatu, aku
ingin melakukan sesuatu yang besar, aku ingin suatu yang revolusioner
yang bisa menghentakkan kemanusiaanku sebagai hamba Allah yang taat,
tanpa mengorbankan orang lain tentunya. Biarlah badan ini binasa
untuk memperolehnya, namun ketakutan untuk tetap teguh selalu
menyelimuti jiwaku pula.




Suatu ketika aku ingin
menjadi seperti Mus'ab Bin Umair, seorang pemuda Quraisy yang
meninggalkan kenikmatan dunia untuk syahid kepada Allah SWT, di lain
waktu aku ingin menjadi seperti Abdurrahman bin Auf,
konglomerat.dermawan di masa Rasulullah, suatu ketika aku ingin
menjadi seperti Khalid Bin Walid, panglima perang yang gagah berani,
suatu ketika aku ingin menjadi seorang Usman Bin Affan yang lemah
lembut, suatu ketika aku ingin menjadi seorang Imam Ali yang teguh
pendiriannya, suatu ketika aku ingin menjadi seperti Abu Bakar
Shiddiq, seorang pembela kebenaran, suaut ketika aku ingin menjadi
Sayyid Qutb, menjadi seorang yang controversial. Aku ingin revolusi diri,
tapi tindaknnya tidak ada.





Mungkin penjara adalah
tempat yang paling cocok bagiku, namun kesalahan apa yang bisa
membuat aku dipenjara, yang pasti bukan karena pembunuhan, pencurian,
dan kejahatan memalukan lainnya, aku ingin tuduhan yang lain seperti
makar kepada Negara, lantang pada penguasa yang zalim pada rakyat
kecil.




Aku tidak ingin seperti
Soekarno dan Soeharto para diktator yang mengaku-ngaku beragama
Islam, lebih-lebih aku tidak ingin menjadi Hitler, Karl Marx,
Napoleon, Macchiavelli, Jenderal Mc. Arthur, George Bush, Paus
Urban,paus Benedictus Vladimir Putin,Ariel Sharon, Tony Blair, John
Howard para musuh Islam,yang secara terang-terangan ingin membantai
umat Islam, juga aku tak mau menjadi kaum munafiqin seperti Pervez
Musharaf di Pakistan, Mahathir Muhammad di Malysia, Mahmoud Abbas
Palestina, Mustafa Kamal di Turki, Soekarno di Indonesia,Saddam
Hussein di Irak dan para boneka kapitalis lainnya yang lebih
berbahaya dari orang kafir, karena mereka tetap menjadi makmum dalam
shalat jamaah , ular berkepala dua.




Aku salut pada Mahmoud
Ahmadinejad di Iran Ayatullah Ruhullah Khomeini, di Iran pula, Ismail
Haniyeh di Palestina, Ismail Yusanto DKK di Indonesia, Habib Riziq
Shihab di Indonesia, Abu Bakar Ba'asyir di Indonesia, Syekh Hassan
Nasrallah di Libanon.


085855468090

Kepada pihak lain aku juga
sedikit bersimpati, meskipun berbeda akidah, namun perjuangan melawan
ketidakadilan tetap diutamakan, kepada Hogu Chavez, sektu bagi kaum
Muslimin melawan para kafir kapitalis.

_________________
A LA GUERRE COMME A LA GUERRE

al_fajr
.
.

Male
Jumlah posting : 288
Age : 30
Lokasi : ada deh...want to know ae
Status : buronan CIA & Israel
Hobby : maen game
Registration date : 05.05.07

Statistik
Point:
0/0  (0/0)
Warning:
0/0  (0/0)
Thank:
0/0  (0/0)

Lihat profil user http://fajrin-home.page.tl

Kembali Ke Atas Go down

Re: Le Journale

Post  Sponsored content Today at 7:15 am


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik