Dilema Animator, Indie Apa Komersil ?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Dilema Animator, Indie Apa Komersil ?

Post  selftrain3D on Fri May 11, 2007 4:22 am

Dilema Animator, Indie Apa Komersil ?

Saluran unjuk gigi para animator masih minim.
hello;fest, Festival Film Animasi Indonesia, Festival Animasi Jogja, dan Jiffest, belum lagi cukup. Untuk yang terakhir ini pun menjadi ajang campuran, sebab dalam Jiffest sendiri karya yang dipamerkan tak menonjolkan arah animasi saja sebab lebih ke umum. Lain daripada itu masih belum terdengar lagi.

Berangkat dari event-event animasi yang bersifat lokal yang demikian itulah setidaknya para film maker indie animasi unjuk gigi. Bedanya dengan komunitas film indie yang bukan animasi, mereka lebih banyak memiliki kantung-kantung sebagai ajang penyaluran kreatifitasnya.
Diakui memang oleh beberapa animator, kenyataan yang mengatakan seperti itu bersumbu di elemen dasar dalam kegiatan berproduksi, lantaran untuk produksi animasi memerlukan kocek yang tidak sedikit jumlahnya. Selain kocek mereka juga membutuhkan waktu yang lumayan panjang, sebab animasi tak bisa dibuat secara instan. Beda dengan film yang bukan animasi atau yang disebut awamnya adalah film live shoot. Hanya dengan bermodal handycam bisa dibuat cepat dan sehari bisa jadi, belum lagi dengan sokongan teknologi digital yang mudah tersedia sekarang ini.

Kebuntuan yang berujung pada masalah dana yang tidak sedikit itulah, yang membuat para animator indie ini kurang sreg untuk terjun terus-terusan didalamnya. Darisitu tak sedikit para animator, yang menerjunkan diri sekaligus menjadi pemain di wilayah komersil.

Rejeki tak bisa ditolak, mungkin seperti itu istilahnya. Maka meski berjalan di jalur indie, animator pun masih menerima pesanan karya spesial untuk klien. Jenisnya pun rupa-rupa, dari pesanan untuk membuatkan animasi ke bentuk company profile, cd-dvd edutaiment, series untuk program di stasiun televisi, sampai bikin animasi untuk televisi commercial, dll.

Apalagi didukung dengan kenyataan bahwa, di tanah air ini sumber daya yang berprofesi sebagai animator ini tersedia tidak banyak. Jadi tenaga mereka pun kerap dicari oleh para develop materi animasi seperti umumnya adalah post house, dan agency advertising.

Menjiplak lirik lagu dari Seurieus, maka bisa ditirukan disini animator juga manusia, maksudnya selain berkarya mereka juga butuh duit. Baik yang sifatnya untuk menghidupi diri sendiri maupun untuk menghidupi karya animasi independent mereka nantinya.

Jonathan Erlangga alias Cokbun yang saat ini masih aktif sebagai pengajar di Baba Studio tersebut juga melontarkan secara terang-terangan mengenai dilemanya. Jalur indie tetap dijalani, jalur komersil pun ditunggu dengan harap-harap cemas.

“Porsi untuk menerima duit sih masih. Indie kalau dari segi ekonomi sih memang gak menjanjikan banget, karena kita gak bisa menagih penonton untuk membayar kita dari membeli harga tiketnya. Sebab film-film indie animasi sendiri mau diputar ke studio film animasi dimana ?,” akunya. Animator yang karyanya pernah mengantongi juara di hello;fest dengan judul Dangdut Membawa Maut ini, sempat pula beberapa kali mendapat karya pesanan yang teruntuk klien. Salah satunya adalah project animasi berupa film seri yang ia kerjakan untuk TVRI.

Tak hanya Cokbun yang merasa tergiur dengan penghasilan yang didapat dari pekerjaannya sebagai animator. Yudhi Kusadhitama, juga mengatakan kesaamaan pendapatnya, “ Soal penghasilan sih emang apapun yang sifatnya komersial itu memang lebih menjanjikan.” Seperti yang dicontohkan oleh Moels dan Kunt, animator asal Bandung yang bisa mengantongi pendapatan sebesar 40 juta, untuk membuat animasi cd-edutaiment anak-anak sebagai karya pesanan yang diadaptasi dari buku keluaran salah satu penerbit terbesar.

Sebagai animator yang kini berstatus freelancer, Yudhi mengaku tak menolak jika klien datang meski pada kenyataanya dia masih membuat animasi secara indie. Sementara jalur indie yang sudah pernah dicobanya adalah mengikutsertakan karyanya ke hello;fest. Disana karyanya mendapat sambutan apik dan menjadi juara dengan judul Till Death Do Us Part. Serta film dengan judul Trapped soul.

Bila berhadapan dengan klien, maka menurut Cokbun dan Yudhi siap-siap saja untuk menanggalkan idealisme. Sebab dipandang klien lebih memilih hak sebagai pemegang kendali. Yudhi berkomentar, bekerja dengan klien sudah tak lagi menjadi seorang kreator tapi sebagai drafter. Sebabnya detail pekerjaan sekecil apapun selalu diperhatikan. Cokbun juga merasa demikian, bila bekerja dengan klien creativitasnya menjadi terbatas.

Dilema pun kadang datang menghadang. Bekerja dengan klien terbatasi secara kreativitas. Tapi dengan indie, mereka bisa seenaknya memasukkan ideologi masing-masing dan secara kreativitas juga dituntut sebebas-bebasnya. “ Dari indie lalu nyambi ke komersil itu juga jarang bisa lho. Karena pasti lama-kelamaan indienya akan hilang, dan lebih memilih suka ke pekerjaannya,” ungkap Yudhi.

Meski indie tidak memberikan penghasilan berupa materi. Namun sebagai salah satu langkah bagus untuk animator adalah berawal pada jalur indie. Sebab dengan jalur indie ini mereka akan menemukan learning by doing, ataupun trial and error lewat karya.

Caranya dengan tidak menyimpan karya itu sendiri untuk sekedar dijadikan file dalam komputer. Dan pilihan tepatnya adalah dengan menyalurkan karya animasi yang dibuat secara indie tadi dengan mendaftarkan ke berbagai event festival animasi.

Disamping menjadi tempat yang tepat, para animator yang mengikutkan karyanya lewat lomba bisa jadi jika karyanya bagus, otomatis karyanya akan dilirik orang. Dan iming-iming jadi sang pemenang akan datang setelah itu.

Menang di festival, sudah pasti menjadi satu nilai plus bagi si animator. Karya yang telah dibuat tersebut bisa menjadi portfolio. Dan bisa mendatangkan fulus dikemudian hari. Sebab untuk ditawarkan ke perusahaan semacam post production ataupun stasiun televisi, belum tentu mau menerima begitu saja setiap karya yang datang. Mereka pun para pebisnis diindustri tersebut bakal mencari animator yang karyanya sudah pernah di publish.

Tak sedikit pula teman-teman dilingkungan animator, dari pengamatan Yudhi yang meski sudah punya karya banyak tapi toh karya itu akhirnya bingung akan dibawa kemana nantinya. “Banyak teman-teman yang sudah punya karya, tapi bingung karyanya mau dibawa kemana. Dan mereka juga sadar sih, kalau mereka juga gak punya links dengan perusahaan-perusahaan yang kayak gitu,” tukasnya.

Rupanya antara Yudhi dan Cokbun memilih jalur yang benar, agar karyanya tak sia-sia begitu saja maka mereka mengambil sikap lebih pasif dengan cara memasukan karya ke berbagai lomba animasi. Dengan tujuan awal bukan duit yang lebih utama dicari.

“Kalau cari duit di event-event gitu dapatnya kan gak gede. Tapi kalau udah ikut lomba itu kayaknya ada kepuasan tersendiri. Karya kita bisa dikenal yang lain, dan lumayan karya kita bisa dihargai,” terang Yudhi. “Hadiahnya emang gak seberapa sih. Tapi setelah ikut event nama kita akan lebih dikenal. Dan itu buat saya bisa memicu rasa pede, untuk bisa nelorin karya yang berikutnya. Selain itu ngerasa aja kalau karya kita bisa dihargain. Dan kepuasan batin lainnya, bisa ditonton sama orang banyak itu saja sih,” imbuh Cokbun.

Jalur indie animasi sudah mendapat pengakuan didepan mata apabila nyata tak bisa menjanjikan materi. Makanya ketika, beberapa film maker yang terdiri dari para animator tersebut punya plan untuk menelorkan karya yang murni indie. Kasusnya ditengah jalan, project indie seperti yang dirancang awal tadi bakal macet. Macet karena masing-masing para animatornya sudah terlebih dahulu sibuk mengerjakan project yang datangnya dari klien, ketimbang balik mau mengerjakan hutang pekerjaan di project indienya.

Pengalaman serupa juga pernah dirasakan dua animator itu, Yudhi dan Cokbun. “Cerita sih sudah dibuat. Nah, pas masuk ke skenario udah deh ngilang satu-satu. Banyakan sih sudah sibuk sama kerjaan masing-masing. Kalau mau dipertahanin dan saya buat sendiri juga gak bisa kan, karena dari awal idenya sudah bareng-bareng,” ujar Yudhi. “Pernah sih mau bikin animasi yang akan diikutin ke festival. Tapi terus timnya pada bubar gitu, ya udah jadi batal deh,” tambah Cokbun.

Indie banyak diasumsikan orang adalah karya yang dibuat dengan murni biaya sendiri baik dari segi produksi, distribusi, ataupun promosi. Namun ketika segi produksi bisa dicapai, sementara dari segi distribusi dan promosi tak bisa diraih lagi. Maka para animator pun memilih karya tersebut cukup dinikmati sendiri saja.

Ada pula anggapan dari sebagian kalangan animator, apabila animasi yang dikerjakan secara indie itu lebih kepada mereka para pemula. Karena biasanya, kalangan pemula lah yang masih getol untuk bikin karya sendiri. Tapi disisi lain, indie juga menjadi milik para animator yang yang sudah settle dari segi kemapanannya. “Animator kalau emang dari segi biaya dan segi waktu mereka punya. Pastinya untuk menyalurkan ide-ide creative yang lebih gila selalu ada. Salah satu caranya ya kadang suka bikin project iseng, dan hasilnya emang gila-gila sih,” tutur Afumado, animator asal Surabaya.*** Oleh Wiwie Uminarsih, disadur dari majalah Behind The Screen edisi Agustus 2006

cheers

selftrain3D
Capo mania
Capo mania

Male
Jumlah posting : 80
Lokasi : NoMaDeN
Hobby : animation n hunting
Registration date : 25.04.07

Statistik
Point:
50/100  (50/100)
Warning:
0/0  (0/0)
Thank:
20/1000  (20/1000)

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Dilema Animator, Indie Apa Komersil ?

Post  croot_162 on Tue May 15, 2007 11:09 am

betul juga tuhhhhhhhhhhhhh
lol! lol! lol!
saya pribadi hari ini mempelajari animasi
lantaran hoby ajach...........
tapi setelah beberapa saat sempat sehhhh
ingin serius tapi melihat respon dari beberapa
pihak mereka cuman menganggap semua cuman
sebatas hoby saja...............
hi hi

croot_162
.
.

Male
Jumlah posting : 231
Age : 32
Lokasi : chambers Management
Hobby : D3siGN GRafIS
Registration date : 04.05.07

Statistik
Point:
0/0  (0/0)
Warning:
0/0  (0/0)
Thank:
0/0  (0/0)

Lihat profil user http://www.voolshop.nice-forum.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik