"Graffiti" di Jalanan Ibu Kota

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

"Graffiti" di Jalanan Ibu Kota

Post  croot_162 on Wed Jun 20, 2007 11:58 am

"Graffiti" di Jalanan Ibu Kota
Niatnya Menghibur Pengguna Jalan

Beraksi di malam hari, Pylox dan cat tembok adalah senjata mereka. Ini dia para pelukis kota!

Akhir-akhir
ini banyak banget lukisan jalanan yang dibuat di tembok jembatan
layang, tembok samping rumah, tembok pembatas lahan tidur, sampai
rolling door toko yang sudah tutup.

Tulisan itu kadang berbentuk
huruf dengan menggunakan cat semprot atau cat tembok. Kadang tulisan
itu merupakan campuran huruf dan gambar. Yang pasti, karena warnanya
sangat mencolok, lukisan tadi jadi menarik perhatian para pengguna
jalan.

Itulah graffiti yang belakangan lagi subur
pertumbuhannya. Seperti enggak bisa melihat "lahan kosong", setiap
minggu ada saja tulisan graffiti baru menyapa kita di jalan.

Walaupun
kadang tulisannya hanya berbunyi nama kelompok dan nama orang, graffiti
juga bisa membuat kita terkagum-kagum karena bentuk-bentuk hurufnya
yang atraktif. Malah kadang kita enggak mampu membaca tulisan itu
gara-gara terlalu susah untuk dieja.

Ternyata di balik semua
keindahan itu, para pelukis graffiti (sering disebut bomber atau
writer) di kota-kota besar dan Jakarta pada khususnya, menyimpan cerita
sedih, seru, sekaligus menegangkan pada waktu pembuatannya.

"Gue
enggak tahu kenapa graffiti sering dilarang. Padahal itu kan seninya
tinggi. Daripada tembok di Jakarta dipenuhi sama coretan nama gang
sekolahan yang enggak jelas," keluh Adhit waktu mengajak Tim Muda dalam
"pengeboman" di suatu malam.

Cowok kurus berkacamata ini memang
menjadi salah satu bagian dari komunitas graffiti yang ada di Jakarta.
Wajar saja kalau dia lebih sering "berkarya" (mereka mengistilahkannya
dengan ngebom) di tengah malam. Soalnya pada saat itu, aktivitas Adhit
bersama teman-temannya menjadi tidak diketahui orang. Dengan begitu,
tidak ada petugas keamanan yang bisa menghalau mereka.

"Biasanya
sih yang ngusir kita tuh Polisi Pamong Praja. Kalau ketangkap, paling
kita disuruh bersihin karya kita pakai cat putih, terus dibawa sebentar
ke kantor polisi," katanya lagi.

Asal-usul

Dari mana asalnya ya, kok graffiti jadi ramai kayak gini?

Susah
banget kalau mencari dari mana asalnya graffiti ini. Yang pasti sejak
zaman perang kemerdekaan, kita sudah mengekspresikan keinginan untuk
merdeka lewat graffiti.

Walaupun dengan skill dan peralatan yang
masih sederhana, konsep tulisan dan dinding menjadi media paling aman
untuk mengekspresikan pendapat secara diam-diam pada saat itu.

Istilah
graffiti sendiri diambil dari bahasa latin, graphium yang artinya
menulis. Awalnya istilah itu dipakai oleh para arkeolog untuk
mendefinisikan tulisan-tulisan di bangunan kuno bangsa Mesir dan Romawi
kuno.

Pada perkembangannya, graffiti di sekitar tahun 70-an di
Amerika dan Eropa akhirnya merambah ke wilayah urban sebagai jati diri
gang yang menjamur di perkotaan. Karena citranya yang kurang bagus,
graffiti malah telanjur jadi momok bagi keamanan kota. Alasannya karena
dianggap memprovokasi perang antarkelompok atau gang. Parahnya, selain
dilakukan di tembok kosong, ngebom pun dilancarkan di kereta api bawah
tanah.

Di Amerika sendiri, setiap negara bagian sudah punya
peraturan sendiri untuk membungkam graffiti. Di San Diego, California,
sampai New York, semua punya undang-undang yang menyebutkan bahwa
graffiti adalah ilegal. Untuk menghukum semua pelakunya, graffiti pun
dibagi menjadi dua jenis.

Yang pertama adalah gang graffiti.
Yaitu graffiti yang berfungsi sebagai identifikasi daerah kekuasaan
lewat tulisan nama gang, gang gabungan, para anggota gang, atau tulisan
tentang apa yang terjadi di dalam gang itu.

Yang kedua adalah
tagging graffiti. Yaitu jenis graffiti yang sering dipakai untuk
ketenaran seseorang atau kelompok. Makin banyak graffiti jenis ini
bertebaran, maka makin ngetoplah nama si pembuatnya. Makanya graffiti
jenis ini perlu tagging alias tanda tangan dari writer atau bomber-nya.
Semacam tanggung jawab karya-lah!

Di Indonesia

Bagaimana dengan di Indonesia?

Sepertinya
masih belum ada undang-undang yang secara tegas menyebutkan bahwa
sebuah graffiti itu ilegal. Tapi kalau mendengar cerita-cerita dari
bomber-bomber Ibu Kota yang sering disuruh menghapus piece (karya)
mereka, kayaknya aksi mereka memang bikin gerah pemerintah kota.

Hal
ini juga pernah dialami seniman mural. Mural yang berbeda dengan
graffiti dalam hal bentuk gambar, pernah dijadikan hiasan kota lewat
event Jak@rt tahun 2001 yang melibatkan puluhan seniman mural di
Jakarta. Tapi tiba-tiba karya mereka banyak yang dihapus cat putih
karena dianggap tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah kota (waktu
itu masih Pemda)

"Kebijakan Pemda DKI Jakarta adalah tidak
menerima adanya lukisan yang dinilai tidak senonoh," kata Muhayat,
Kepala Biro Humas Pemda DKI Jakarta waktu itu, seperti dilansir Harian
Kompas (7 Agustus 2001).

Waduh, kalau gambar yang bagus kayak
mural saja dilarang, bagaimana kabarnya dengan graffiti yang cuma
bermain dengan bentuk huruf ya?

Akhirnya, para bomber memang
bergerak diam-diam. Mereka menggunakan media internet untuk
merencanakan aksi mereka. Mulai dari SMS, e-mail sampai friendster
semua dipergunakan.

Mereka biasa berkumpul di sebuah meeting
point yang udah ditentukan. Di situ mereka merencanakan soal spot
(lokasi inceran), jalur dan keamanannya. Kalau yang ikut sampai ada
banyak kru, diperlukan beberapa tim advanced untuk ngecek keadaan spot.

Setelah
dirasa aman, barulah pasukan yang lain datang ke lokasi. Tapi kalau
hanya sedikit kru yang ikut, mungkin bisa dilakukan sekaligus.

Penyegaran mata

Bayangkan
kalau kita lagi terjebak di kemacetan kota. Entah itu di kolong
jembatan atau di samping tembok panjang. Terus di samping kiri-kanan
terpampang graffiti dalam berbagai bentuk. Nah, para bomber tadi sih
maunya menjadikan karya-karya tuh sebagai penyegaran mata.

"Kan
enak, lagi macet sambil melihat graffiti. Kesannya lagi di galeri
lukisan gitu. Terus mereka juga bisa nilai karya siapa yang paling
bagus. Jadi biarlah para pengguna jalan menjadi juri," kata Dhika,
salah seorang bomber yang ditemui Tim Muda pas sebelum beraksi.

Operasi
"pengeboman" selalu dilakukan lewat tengah malam. Beberapa hari
sebelumnya mereka pasti melakukan survei lokasi. Hasil check spot tadi
bisa berbuah dua hal. Mereka bisa menemukan spot baru, atau mereka
malah menemukan spot karya mereka perlu diperbarui.

"Biasanya
sih kami perbarui dengan cara menimpa karya yang lama. Tapi kami enggak
pernah nimpa atau merusak karya orang lain. Kenapa mesti diperbarui? Ya
karena sudah bosan aja dan kadang sudah basi isi pesannya," kata Echo,
pentolan Morden Crew, yang membawa Tim Muda keliling wilayah Kebayoran
Baru, Jakarta, untuk melihat lokasi pengeboman malam itu.

Isi
pesan sebagian besar graffiti crew di Indonesia, khususnya Jakarta
mungkin masih bersifat tagging crew alias cuma menonjolkan nama
kelompok demi kepopuleran. Nama-nama kru disemprot dalam berbagai
bentuk yang bisa menimbulkan decak kagum karena keindahannya.

"Kadang
kita juga bikin pesan khusus seperti selamat ulang tahun untuk temen,
pesan cinta untuk cewek, pesan sosial juga ada kok. Yang pasti kita
enggak main politik. Cinta aja deh," aku Echo lagi.

Ngebom

Akhirnya
kita sampai di lokasi. Daerah Gandaria pagi dini hari itu makin gelap.
Waktu menujukkan pukul 2 dini hari. Sabtu malam, sudah berganti Minggu.
Echo bersama 4 orang temannya turun dari mobil VW Combi sambil
mempersiapkan dua lusin pyloks yang baru dibelinya tadi sore.

Di
hadapan mereka ada sebuah karya yang akan diperbarui. Adhit mengamati
desain baru yang terkumpul dalam sebuah binder. Setelah menyetujui
sebuah desain, Echo turun beraksi membuat garis-garis pinggir huruf
demi huruf, sementara Adhit mengawasi dari kejauhan. Hebatnya, semua
itu mereka lakukan tanpa bantuan penggaris, skala, dan... penerangan
lampu!

Mereka mengerjakan satu desain dalam waktu kurang lebih
dua jam. Awalnya, belum berbentuk. Bahkan ketika udah jadi pun, karya
mereka ini belum bisa dinikmati karena kurangnya cahaya.

Besoknya,
ketika hari sudah terang, graffiti itu tampak mencolok di pojokan
jalan. Membuat para pengguna jalan melintas pelan di jalan sambil
berusaha membaca tulisan itu pas mereka berhenti di lampu merah.

Niat mereka menghibur pengguna jalan pun terwujud... at least buat sebagian orang.

YORGI GUSMAN
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/29/muda/1717103.htm

_________________
NOT SICK OR SUCK

croot_162
.
.

Male
Jumlah posting : 231
Age : 32
Lokasi : chambers Management
Hobby : D3siGN GRafIS
Registration date : 04.05.07

Statistik
Point:
0/0  (0/0)
Warning:
0/0  (0/0)
Thank:
0/0  (0/0)

Lihat profil user http://www.voolshop.nice-forum.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik